, ,

Yayasan Abdurrahman Wahid-Soka Gakkai Gelar Dialog Peradaban

oleh -447 Dilihat

Manado – Yayasan Abdurrahman Wahid-Soka Gakkai Gelar Dialog Peradaban. Yayasan Bani Abdurrahman Wahid dan Soka Gakkai Indonesia menggelar pameran perdaban di Masjid Istiqlal Jakarta Pusat, pada 1-7 Oktober 2025. Pameran ini bertema “GUS DUR dan Daisaku Ikeda untuk Kemanusiaan: Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian”.

Ketua Pelaksana, Inayah Wulandari Wahid mengatakan, kegiatan ini digelar untuk memperingati 15 tahun pertemuan Gus Dur dan Daisaku Ikeda. Di mana hal tersebut dituliskan dalam sebuah buku. “Jadi ini untuk memperingati keluarnya buku tersebut, kenapa mesti diperingati? Karena ini salah satu wasiat Gus Dur dan Ikeda. Bahwa, buku ini harus tersebar luas dan sangat penting karena berbicara tentang kondisi dunia,” kata Inayah Wahid di Jakarta, Rabu (1/10/2025).

Inayah menjelaskan, dialog yang kemudian menjadi isi buku itu bermula 15 tahun lalu ketika Gus Dur dan Ikeda bertemu. Buku berjudul Dialog Peradaban ini merekam percakapan mereka berdua sebagai pemimpin kelompok agama sekaligus tokoh perdamaian. “Dua-duanya banyak bicara soal perdamaian, mereka ketemu pertama kali, kemudian hasil pertemuan keduanya dijadikan buku. Dialog Peradaban Dunia ini dikeluarkan 15 tahun lalu,” ujarnya.

Setelah digelar di Masjid Istiqlal, pameran ini akan di lanjutnkan di dua tempat lainnya. Yakni, Makara Art Centre Universitas Indonesia dan Pusat Kebudayaan “Tiga rangkaian itu kalau dihubungkan dengan isi buku Dialog Peradaban mewakili berbagai aspek, lalu kenapa di Istiqlal? Karena melambangkan aspek interfaith, Gus Dur dan Saku Ikeda dulu pemuka agama yang berbeda,” ucap Inayah.

“Dialognya membicarakan toleransi, perbedaan agama, dan bagaimana menciptakan hubungan harmoni,” kata puteri ketiga Gus Dur itu. Menurut Inayah, isi buku tersebut sangat relevan dengan kondisi saat ini sehingga perlu disampaikan ke masyarakat.

“Situasi hari ini banyak dibicarakan dalam buku tersebut, dengan Indonesia hari ini semuanya relevan dengan persoalan hari ini. Rumah ibadah susah didirikan, pengusiran rumah ibadah itu seperti penyakit besar yang saling berkelindan, buku ini membahas semua itu,” katanya.

Dalam rangkaian kegiatan, juga akan dilakukan peluncuran versi audio book. Pameran ini sendiri memiliki tiga poin utama. Pertama, memunculkan isi buku Dialog Peradaban, kedua menghadirkan sosok Gus Dur dan Daisaku Ikeda dalam keseharian. Serta ketiga menampilkan pesan perdamaian melalui karya seni.

Inayah berharap publik bisa melihat Gus Dur dan Ikeda sebagai manusia biasa yang dekat dengan keseharian masyarakat. “Mereka bukan makhluk istimewa, superhuman,” ujarnya. “Mereka bukan sesuatu yang tidak tersentuh. Justru kebalikannya, mereka adalah bagian dari kita semua,” kata Inayah. “Kalau mereka melakukan keputusan atau tindakan yang memunculkan perdamaian. Berarti, kita juga bisa,” ucapnya.

Kegiatan ini dikemas dalam beberapa agenda. Di antaranya: Pameran visual, berupa cuplikan kisah kehidupan inspiratif Gus Dur dan Daisaku Ikeda serta kutipan pemikiran kedua tokoh. perdamai dan Bedah Buku, yang mengangkat tema dialog, toleransi, dan perdamaian berdasarkan isi buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian. Acara ini juga menghadirkan tokoh agama dan aktivis gerakan perdamaian. Art Performance, sebagai ruang pertukaran kebudayaan dan memperkenalkan budaya Jepang serta Indonesia. Khususnya bagi generasi muda.

Baca Juga : BMKG: Sumenep Miliki Catatan Bencana Gempa Merusak

Yayasan Abdurrahman
Yayasan Abdurrahman

Pameran ini juga akan dihadiri masyarakat umum, tokoh agama dan perwakilan organisasi keagamaan, akademisi dan pelajar. Serta organisasi yang bergerak di bidang toleransi, hak asasi manusia, dan perdamaian.

Untuk diketahui, Daisaku Ikeda merupakan seorang filsuf Buddhis, pengusung perdamaian, pendidik, penulis, dan penyair. Ikeda merupakan presiden ketiga Soka Gakkai yang juga presiden pendiri Soka Gakkai International {SGI).

Ikeda lahir di Tokyo Jepang pada tanggal 2 Januari 1928, anak ke-5 dari 8 bersaudara, dari keluarga petani rumput laut. Kehancuran dan kekejian yang ia saksikan selama Perang Dunia II sebagai seorang remaja melahirkan tekad bekerja seluruh hidupnya demi perdamaian, memberantas segala akar konflik antar sesama.

Indosat

No More Posts Available.

No more pages to load.